Perdu Kasih

(Mengenang Nenda Fatimah bte Abdullah)

Penulis Bersama Nenda Fatimah di Haw Par Villa, 1960 - RH Images

Selendang putih yang kubelikan kau di Makkah,
tidak sempat kaugunakan ke mana-mana, hanya
pesanmu, tutuplah mukamu dengan selendang itu,
engkaukah yang dapat menebak masa depan,
atau Tuhan yang lebih menyayang, bagai
mimpi pedih, sesingkat masa, kusaksikan kau
berjuang, barah tiba-tiba menular, tabah & tawakal,
& akhirnya, 8:29 malam, 16 Disember, 1991,
selendang putih itu menutup wajahmu.

Kehilangan inikah terlalu menghiris, atau
akukah yang terasa, betapa sedikitnya dapat
kubalas segala pengorbananmu & jasa, & dalam
kehidupan yang semakin bercabang, luas, aku
menjadi demikian piatu.

Kau ibarat pohon nan rimbun.
teguh & sentiasa melindung,
terik & taufan cuaca,
kau sedia mengongsi air, sinar, baja,
kerana yakin,
tiap kami adalah tumbuhan istimewa,
yang berupaya menjadi pohon.

Bagaimana dapat kulupakan jasamu,
membesarkan aku, cucu yang kaujadikan
anakmu, bagaimana dapat kulenyapkan
dari ingatan, air mata yang kautitiskan,
sepanjang perjalanan dari Kg Wak Tanjong
ke Jalan Kobis, atau ria-laramu di Lorong
L, penantianmu ketika aku pulang lewat
dari Bukit Timah, Kent Ridge, doronganmu
terhadap cita-cita, kejutanmu agar bersegera
ke tempat kerja, doa & air matamu yang
mengiringiku ke Brunei, kepulanganku &
peristiwa-peristiwa membadai, bagaimana
dapat kulupakan, ketabahan hatimu & keyakinan
padumu terhadapku, & dalam getirnya sengsara,
aku tetap bahagia, dalam doa, kasih sayang
& kemaafaanmu.

Kau perdu kasih, tunjang harapan,
berakar kemanusiaan, ikhlas merimbuni
ketika langit gelap, sebatang kara, kau
menghubungkan insan, membesarkan anak-anak
terbiar, membina persaudaraan dari
persahabatan, & mewariskan inti ihsan
& cinta: tiada ‘orang luar’ di sisi manusia.

Kehidupanmu adalah lorong-lorong beraneka,
keramahanmu aspalnya, kau enggan membeza,
kelainan bangsa, agama, usia, lalu menjadi
ibu angkat, nyonya di depan rumah, nenek bagi
penduduk Lorong L, Sims Avenue, Jalan Kobis, Bedok,
bidan di Kg Melaka, Kallang, Lorong G, Duku Road,
& dalam derita, bahagia, kau tetap percaya,
kebaikan manusia mengatasi keburukannya.

Apakah nanti aku akan selalu terkenang,
cerita-cerita yang pernah kausampaikan:
Panji Semirang, Gul Bakawali, Malik Saiful-Lizan,
Sejarah Melayu, 1001 Malam, Faridah Hanum,
kisah misteri, cerita jenaka, aneka syair, pantun,
Md Hanafiah, kisah-kisah Nabi, para wali, anbia,
minatmu pada sejarah, perubahan dunia, isu semasa,
atau kecenderunganmu mengikuti kisah-kisah diraja,
kitab-kitab lama, masakan tradisi, dunia seni,
yang merencami pengalaman & meyakinkan kau,
indah & kayanya anugerah kehidupan.

Atau akukah yang akan sukar melupakan, segala
tunjuk- ajar yang kauserlahkan:
tabah
tegas
gigih
yakin
jujur
kasih
ihsan
hikmah
maruah
& kebesaran & kekuasaan Allah.

Dalam peredaran hari, perubahan cuaca, aku
merindui kau, minum teh, makan petang,
duduk-duduk, memerhati dari tingkap dapur,
makan ubat, petik tauge, menasihat, berleter, gurauanmu,
berbual, bertengkar, tidur, kerenah & perhatianmu,
rumah ini semakin sunyi tanpamu,
& kami demikian piatu.

Tiada ciptaan seniku seagung kasihmu,
nenek & ibu, kau jauhari arif, mohor manikam,
segala pengorbananmu & jasa,
segala pesananmu & doa,
akan kukenang, kutunaikan,
ke manapun berakhirnya kembara.

Nenda Fatimah Abdullah -RH Images

Ditulis: 16hb Disember 1991 – 2hb Januari 1992;
Bedok, Singapura
Tulisan: Rasiah Halil.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s