Epilog (Kepada Siti Salina)

Epilog
(Kepada Siti Salina)

Di Rochor, tiada lagi Kampung Kambing
anak muda tidak menyiulkan “mera bulbul soraha hey”
tiada lagi terlihat wajah Mak Jah, Hilmy, Nahidah,
atau riuhnya gelagat Kurupaya Samy, si Bulat,
semuanya lengang
kecuali kenangan
pada suatu zaman selepas perang.

Di manakah kau sekarang
apakah di Kelantan, seperti
surat terakhirmu kepada Hilmy
atau masihkah kau di sini, bersendiri,
setelah Kampung Kambing terbakar
setelah penghuninya berpindah
mencari secarik makna
dalam hidup yang tiba-tiba tawar?

Betapa ganasnya perang, Salina,
membunuh keluarga & kekasih
membikin dunia jungkar-balik
& Jepun yang memaksa
menjerlus noda
pada rantaian pahitnya peristiwa.

Akankah mengerti seorang Fakar
makna kasihmu & pengorbanan
atau kaukah dilemahi ilusi
melihat pengganti pada petualang
mencintai kelasi yang garang & kejam?

Fakar bukan segalanya, Salina,
bukan kekasih & keluarga yang tiada
bukan tempat mengharap, menyerah,
tapi lihatlah
seorang Hilmy, seorang Nahidah,
seorang Sunarto, Bulat, Mak Jah,
tetap mengerti, mengasihi,
tetap pandai menilai manikam & kaca.

Di Rochor, tiada lagi Kampung Kambing
zaman selepas perang telah lama berakhir
tapi kau belum juga pulang, Salina,
masihkah mengejar fajar kazab
atau belum lagi berani melihat
sebutir bintang
pada malam-malammu sepi gelap?

Ditulis: Jun – 1 September 1989
Bedok, Singapura – Taman Puri, Negara Brunei Darussalam
Tulisan: Rasiah Halil.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s