Kisah Si Kaduk

Kisah Si Kaduk

Si Kaduk naik junjung
menganggap diri seteguh pohon
pohon dirayapi, melata ke atas
subur melilit, menegak, menjalar
laksana si jaguh pantang dicabar.

Tak terperi masyhurnya si Kaduk
di taman, belukar, semak samun
bagai si Kunani ligat bersabung
kampung tergadai, dia seronok
kertas kuyup, maruah bertabur
& dia asyik menajamkan taji
pencabar didarahi di sana sini.

Si Kaduk mahu dianggap unggul
riuh menentukan gelanggang, subuh
galak dikelilingi ayam-ayam upahan
penegak panji, pemalu canang
senyumnya sinis bak senyum raja
umpama ular menyusur akar
ayam-ayam pun mula bersembunyi
takut ditusuk taji sakti
maka nyaring & lantanglah kokok si Kaduk
tika reban & denak sama dilindung
& ayam-ayam semakin daif, bimbang
bila beruk di hutan si Kaduk susukan
ayam sereban mati kelaparan.

Kini si Kaduk masih berkokok
mengasah taji, meriuhi gelanggang
sanggup memakan muntah laksana Badang
ingin dinobat wazir, pendekar, pendeta zaman
sayangnya, hanya dadanya yang membusung
kokoknya gagap, nyaring, mentah
tajinya sepuhan, berkulat, bernanah
& reban pasirnya berdekatan Selat Singapura.

Ditulis: 19-21 April 2014
Bedok, Singapura
Tulisan: Rasiah Halil.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s