Untuk Renungan Kita November Ini

Reminders from Nouman Ali Khan:

1. When someone isn’t smart enough to express their frustration, they use dirty words. Those are words that describe a lack of intelligence. Smart people don’t use those kind of dirty words, because they find it an insult to their intelligence

2. When you see someone who is not as religious, remember that you were once on the edge of the fire, and it was Allah Subhaana wa Ta’ala’s favour upon you to guide you. Arrogance will wipe away any goodness from the transformation.

3. When you find yourself in a position to help someone, be happy because Allah is answering that person’s prayer through you.

4. You can’t change someone’s behaviour, all you can do is remind them, and hope that Allah will change their heart.

5. When you’re going through something hard and you start wondering where Allah is, just remember, the Teacher is always quiet during a test.

6. Your sin is not greater than God’s mercy.

7. If we were truly the people of “Alhamdullilah” we wouldn’t find the time, energy, or motivation to complain.

8. We live in a society where we wake up our kids for school but not Fajr (subuh).

9. Just because you’re a Believer, doesn’t mean you are safe from the Hell-fire.”

10. The worst expression of the Prophet’s (Sallallahu ‘Alayhi Wa Sallam) anger towards his wife was that he would remain silent.

11. Islam is not about “we’re better than you”. Rather it is about “let me show you something that is better for you”.

12. People can put you down, and they will but Allah will never abandon you, so long as you don’t.

13. The hypocrite takes good advice as an insult.

14. Allah says Jannah is awesome, imagine how awesome that is when the All-Knowing is calling it awesome.

15. If someone corrects you, and you feel offended, then YOU have an EGO problem.

TIGA PUISI TERJEMAHAN

Daripada Dewan Shamsi Tabriz
(From Divani Shamsi Tabriz)

Dikaulah, dari seluruh dunia, telah kupilih, seorang;
Akankah Kau biarkan daku terus menanggung penderitaan?
Hatiku bagaikan sebatang pena yang berada di tangan-Mu,
Dikaulah punca bagi kegembiraan dan penderitaanku.
Kecuali kemahuan-Mu, apalah kemahuan yang kupunya?
Kecuali petunjuk-Mu, apalah yang dapat kusaksikan dengan mata?
Telah Kaujelmakan daripadaku sang duri dan sekuntum mawar;
Kini dapat kucium harumnya mawar dan hilangkan duri mencakar.
Jika Kau tetapkan aku begini, beginilah aku;
Jika Kau mahukan aku seperti itu, begitulah aku.
Dikaulah pemberi warna kepada jiwa dalam piala hidup
Apalah kiranya aku ini, apalah erti kecintaan dan kebencianku?
Kaulah yang pertama, dan yang terakhir pada-Mu jua;
Jadikan pilihan terakhirku lebih baik daripada yang pertama.
Bila Kau berjauhan, akulah insan terbuang;
Bila Kau berdekatan, akulah insan berkeyakinan.
Aku tak punya apa-apa, kecuali yang Kau anugerahi kepadaku;
Apalah kelebihan yang Kaulihat, daripadaku yang tak punya sesuatu?

Tulisan: Jalaluddin Rumi (1207-1273)
Diambil daripada: A Treasury of Asian Literature, John D. Yohannan (ed.), London: Phoenix House Ltd, 1958.
Tersiar: Sasterawan, Bil. 3/Disember 1980
Terjemahan: Rasiah Halil.

Ihsan
(Compassion)

Usah kau pijak semut itu, yang mengumpul butiran beras
Ia hidup dalam kesenangan, dan akan mati dalam kesakitan
Tapi pelajarilah daripadanya bagaimana sesuatu di simpan
Erti sabar dan ketekunan tanpa batas.

Ditulis: Sa’di/Saadi Shirazi (1213 -1291M)
Daripada: Persian Poems, A.J.Arberry (ed.), London: J.M.Dent & Sons Ltd, 1954.
Tersiar: Jejak Kembara, Jilid 1/Bilangan 4, September 1982
Terjemahan: Rasiah Halil.

Fajar Menyingsing
(Daybreak)

Kau adalah segalanya buatku, masa depanku.
Kemudian perang meledak dan segalanya musnah,
Dan untuk suatu ketika yang begitu lama, tiada ku
Terima daripadamu sebarang tanda, tiada secebis pun berita.

Dan ketika ini aku terdengar suara amaranmu
Melewati tahun-tahun yang duka dan pilu.
Waktu malam hari aku membaca Kitab Suci
Dan cuba bangkitkan semangatku untuk hidup lagi.

Aku ingin sekali bersama manusia lainnya, rakyat jelata,
Berkongsi kegembiraan waktu pagi mereka,
Bersedia membawa mereka ke jalan Tuhan
Menghancurkan daripada hati mereka bibit-bibit kesepian.

Lalu setiap hari aku berlari ke bawah
Menuruni tangga, dengan kelajuan menggila,
Seolah inilah kali pertama aku dibebaskan
Ke lorong-lorong bersalji yang lengang.

Lampu-lampu pun mula dipasang dalam bilik-bilik yang nyaman.
Lelaki-lelaki meminum teh, dan terburu-buru
Ke perhentian bas. Dan dalam masa sejam
Kau pasti tidak akan mengenal perubahan pekan.

Salji mula berkepul dan menebarkan
Jala-jala putihnya di jalanan.
Lelaki-lelaki tergogoh-gapah pergi ke pejabat
Seolah tak punya masa untuk bersarapan.

Hatiku bersama setiap seorang daripada mereka.
Untuk sesiapa pun yang dirundung duka nestapa;
Kuhilangkan diriku bagai salji dicairkan.

Seperti mana kaum wanita, kanak-kanak dan pohoh-pohon,
Juga semua yang tak bernama, kini adalah sebahagian daripada diriku.
Mereka telah menghidupkan kembali jiwaku, dan dengan adanya ini sebagai tanda
Aku tahu inilah kemenanganku sesungguhnya.

Ditulis: Boris Pasternak (1890-1960)
Daripada: The Poems of Dr Zhivago, London: Roger Schlesinger (Publications) Ltd, London, 1969.
Tersiar: Jejak Kembara, Jilid 1, Bilangan 111, Disember 1979
Terjemahan: Rasiah Halil.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s