5 Puisi Untuk Renungan: Rincuh/Daerah Terakhir/Topeng/Cinta/Doors

Rincuh

Berbalam di angkasa
mentari kekar
& hujan menitis
tinggal pelangi secarik
serinya pudar
di balik maya.

Terdengarkah Dang Seri Arif
akan Musang Berjanggut
atau nanti Si Luncai hanyut
labu-labunya tenggelam
tidak perlu ‘biarkan, biarkan…’
& seorang Hamzah Fansuri
hilang syair-syair indahnya
tertusuk belati Belanda
sebelum Perang Paderi.

Alam yang dijadikan guru
tinggal kata
sukarnya benih menjadi pulau
& ayam berketuk di mana-mana
sedang penyu berhiba
di tepi samudera.

Ditulis: 23 Januari 1996
Bedok, Singapura
Tulisan: Rasiah Halil.

Daerah Terakhir

Kalau nanti daerah ini musnah
kita pun menjadi orang-orang papa
tegak tanpa tunjangan
terpinggir di tepi taman
terusir oleh perubahan cuaca
kerana yang teguh & merimbun
ditutupi lalang-lalang liar.

Betapa mudah mengaburi mata
lebih mudah berseni-pura
lalu dicantas, ditukik,
ditebas, ditakik,
pohon-pohon bebas merimbun
pohon-pohon berbuah ranum
& dihamparkan
pohon-pohon kerdil, berpenyakit,
agar benarlah tanggapan
tiada lagi yang istimewa
di taman purba.

Di daerah terakhir ini
kitakah bakal meratapi
pohon-pohon diracuni kimia
tanah digembur sesukanya
anai-anai & belalang meruangi sekitar
& yang tinggal sekadar orang-orang
tiada kekuatan, upaya,
di kebun sekangkang kera ?

Ditulis: 28-29 Januari 2001
Bedok, Singapura
Tulisan: Rasiah Halil.

Topeng

Tidak pernah kuketahui
kau pemilik topeng-topeng itu
atau berwayang kulit di depanku
kerana sedia percaya
pada keikhlasan jiwa
yakin akan bakti bersama
lantas tidak kuhidu
tembelangnya cemburu
hamisnya hasrat
bernanahnya muslihat
& betapa kepedihan ini memanjang
menyaksikan persaingan, perebutan.

Telah kulihat wajah asalmu
d pentas terselindung itu
di balik topeng-topeng menyilau
& kata-kata memukau
& betapa jahilnya aku
berteguh pada kejujuran
berpaksikan kebaikan
sedang di sudut pentas, tercegat ular
berwajah selamba
memagut dengan pangkat, harta,
sedang sebiji khuldi bernama iri
menghancuri keluhuran kita.

Ditulis: 4 – 5 Ogos 2002
Tulisan: Rasiah Halil.

Cinta

Apalah ada pada cinta
dioleng sejarah, diterjah ketika,
berkicau bagai kakak tua:
cintaku lebih mendalam daripada segala
Selat Melaka, Sungai Musi, Laut Jawa,
yang tertinggal hanya arus makna
menenggelami nurani kita.

Apakah cinta itu mewajarkan
tanpa amanah, pilih kasih, rasuah,
gila pangkat, perempuan, harta,
segalanya berwenang
dibungkus indah
bagai anugerah termulia
& kita terpaksa menyaksikan
cacing-cacing mengaku naga.

Cinta bukan sekadar permainan kata
pameran, pesta pora,
tapi tindakan
paksinya jujur
pusarannya luhur
kerana Dia.

Ditulis: 31 Januari 2010
Bedok, Singapura
Tulisan: Rasiah Halil.

Doors

Will you close your doors on me
& fail to see
the rays of light
or colour of my skin
or will it be easier
to act unknowing
when rooms are locked
& doors made too big?

I have no tears
or bitterness
as I leave your mansion
for your doors are too confining
& I love the sea
I like to tease the moon
catch dewdrops & stars
watch the bloom of gul bakawali*
& nature awaits
as your doors close on me.

No anger, regrets,
I’m a gypsy
who love windows
desert, oasis,
& the limitless sea.

Written: 25 – 30 January 1996
Written by: Rasiah Halil.

*Gul Bakawali (Epiphyllum oxypetalum): night blooming cactus with fragrant pink flowers; a mystical flower in classical Malay literature.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s