Kata Mutiara: Sajak-Sajak Muhammad Haji Salleh dan Baha Zain Untuk Renungan Bersama

Petikan sajak ‘ceritera yang ketiga puluh tiga (ii)’

Selama ia (Tun Fatimah) duduk dengan Sultan Mahmud, jangankan ia
tertawa, tersenyum pun tiada pernah
.”

ii
tiada manusia lain yang menjalani malam ini
seperti aku, dan aku sesedih melaka
yang menunggu di luar akan nafasnya,
di dalam hidup pendek ini
aku jadi saksi pada pembunuh ayah, suami
dan saudara yang berdarah dan berdaging bendahara,
aku melihat orang baik dijahatkan
dan orang yang pandai berkata dinobatkan.

melaka boleh dibeli dengan emas,
niat dikabulkan dengan bungkal pemberian,
rakus dagang dan pendatang
mudah menamatkan turunan keluarga.

tua negeri ini,
diketuai oleh umur di hujung usia,
akal nyanyuk dikekalkan
supaya pilihan berterusan,
kezaliman menjalar kepada anak muda,
wang merampas peraturan
pangkat menghalalkan perbuatan.

bagaimana mungkin senyuman datang ke bibir
kerana di negeri ini ada bau maut
yang bertiup dari kubur yang mengelilingi kota?

zalim bermaharajalela
apakah yang akan terjadi pada melaka?

**************************************************

Petikan sajak ‘ceritera yang ketiga puluh empat’

Maka Melaka pun alahlah, dinaiki oleh Feringgi di ujung balai, tiba-tiba lalu ke dalam.”

telah lama alah melaka ini
feringgi hanya pemecah terakhir
pada negeri yang diretakkan
oleh biaperi dan orang-orang besarnya.
bukit istana diusung ke parit oleh zalimnya
yang tak tertebus pada tujuh keturunan.

musuh kita ialah kita sendiri.
undang-undang dilenturkan untuk pilihan raja,
itulah peraturannya.
tanpa musuh luar, di laut atau parit
kita telah pun alah
oleh bahagian diri yang dibiarkan busuk.

negeri telah dirubahkan
untuk senang sebentar,
si rakus riang menjual tanah
kepada musuh yang menyediakan emas
dan akhirnya kita serahkan sejarah
kepada saudagar dan feringgi biadab.

***Kedua-dua petikan sajak tulisan Muhammad Haji Salleh, diambil daripada bukunya Sajak-Sajak Sejarah Melayu, KL: Dewan Bahasa dan Pustaka, 1981***

*****************************************************

Dalam Kekusutan
(pesan untuk anak cucu)

Galilah kebenaran
Di bawah-bawah permukaan gelombang,
Antara belukar masalah,
Di dalam belantara persengketaan,
Di tengah-tengah kekusutan perasaan.

Setelah kau ketemukan,
Inti segala persoalan,
Kumpullah segala kekuatan,
Menegakkan kebenaran.

Tetapi insafilah akan segala dugaan,
Keris lembing dalam peperangan,
Tipu helah serta fitnah,
Bisa dan racun kata-kata,
Menyelinap bagai peluru dan panah,
Dari tempat-tempat yang tak beralamat,
Dari tangan-tangan yang tak bernama.

Perahlah akalmu di atas perasaan,
Pada ketika yang menuntut kebijaksanaan,
Tak ada siapa yang akan mengajarmu,
Tentang membilang dari esa,
Tentang membaca dari alif,
Engkau akan bersendirian,
Menghitung dan menimbang
Dengan mata keimanan.

Sajak tulisan Baha Zain diambil daripada bukunya Esei & Puisi Baha Zain, KL: Dewan Bahasa dan Pustaka, 2002.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s