2 Kuntum Sajak: ‘Suara-Suara’ Dan ‘Mencari Pulau’/ ‘In Search of the Island’

Suara-Suara

Kudengari suara-suara itu lagi, ketika
asar meremangi hari, riang dalam permainan
di taman, gelanggang, bola sepak, bola jaring,
bola keranjang, badminton atau bermain
kejar-kejar, berteriak, bergurau, dalam tergesa,
duduk-duduk di taman, luar koridor,
suara-suara itu tak henti bergema
bagai memantul kenangan silam kita.

Bagaimana nanti jika tiada lagi suara-suara itu
kudengari, sunyi, bagai tanah tanpa penghuni,
tanpa mengiaunya kucing, gonggongan anjing,
burung berkicau, terbang, atau manusia bercakap,
bertengkar, terpekik, ketawa, bisingnya bunyi radio,
Internet, telefon, TV, segalanya sepi di perumahan ini,
& yang tertinggal hanya senyap & kesedihan, bagai
cerita bandar Hamelin & peniup serunai?

Suara-suara ini meriakkan kehidupan, anak-anak kita
yang teruja, terbiar, orang-orang dewasa yang sepi,
tenang, insan-insan disibuki keadaan, mengakrabi
persekitaran, dalam pusaran:  sebuah rumah, perumahan,
kawasan, daerah, negara, benua, dunia, galaksi, alam
semesta, yang kian berkait & berentetan.

Suara-suara yang kudengari ini, beraneka bahasa &
bunyinya, riang, sedih, marah, teruja, atau biasa-biasa,
menyatakan kehadiran, mententerami kebiasaan,
kepelbagaian & kekayaan kehidupan.

Ditulis: 16 – 17 April 2009
Bedok, Singapura
Tulisan: Rasiah Halil.

Mencari Pulau

Telah kulihat banjaran gunung itu,
tika senja, saujana & sepi terasa,
betapa permainya sebuah danau,
pesta itik & angsa liar, atau
mesranya tupai-tupai di Puncak Diablo,
betapa keindahan itu tak mampu diucap,
menyaksi alam, memberi, tanpa kata,
bagai kehidupan yang reda menerima,
membuat kita tertegun, mencari pulau,
dalam pelayaran yang perlu diteroka.

Kitakah yang menrindui banjaran gunung itu,
atau ada andaian yang tak terkata,
memaklumi keterasingan, dipenjara keadaan,
hutan-hutan konkrit, kejang & kasar,
mungkinkah kerinduan itu lambaian pohon-
pohon ru, tasik & kolam, lautan bebas,
burung-burung camar, atau sekadar insan,
riang, bebas, & tidak digesa kesibukan?

Apakah kau turut mengalami, perjalanan
yang seakan tidak putus ini, dari kota
ke kota, dari lapangan ke suatu lapangan
terbang, kerana ketenteraman adalah penawar,
antara tindihan kisah-kisah lama, tuntutan
hari ini & harapan hari muka, kita mula
melakar peta, mencari pulau, dalam hebatnya
pukulan gelombang.

Kita akan tinggalkan perairan ini,
mencari pulau, menuju tanjung & lautan,
& secebis harapan membenih di jiwa,
berakar di minda, sukar diraguti segala,
seharusnya tidak kita perdui sebuah cinta,
pada mereka yang terbiar & tidak terbela,
kerana pagar-pagar terlalu memenjara,
pada keikhlasan yang lain pengucapannya.

Tidak kuketahui apa kesudahannya,
menghadami segala, bagai tiram yang
sabar sentiasa, apakah nanti bagai
Fansuri, Chairil, Amir Hamzah atau Pramoedya,
langkah ini dibina, kemudian tersisih,
terseksa, & tiada yang turut mengerti
kepedihan derita.

Apakah pertemuan ini soalan-soalan
terjawab, kau yang mencari pulau,
aku yang tersadai di pantai, atau
nanti kita bersama temui, sebuah
pulau, jauh dari Khatulistiwa, &
kita maklumi segala & reda?

Sesekali mendengar berita & suaramu,
aku semakin yakin, tentang takdir,
ihsan, cinta, keikhlasan & pengorbanan,
betapa hidup berkesinambungan, antara
kepayahan & kegirangan, & bagai phoenix,
kita belajar hidup kembali, setelah
kegagalan & kekecewaan menghangusi.

Aku tahu kita akan sampai ke pulau itu,
sahabatku, bagai al-Tariq yang yakin
akan pelayarannya, & kalau nanti kita
terlambat ke sana, bumi meledak, Ishtar
terluka, & merpati patah sayapnya,
kau akan tahu, tidak sia-sia kita
melakar peta, mencari pulau, walau
Tanjung Harapan bertukar nama.

Ditulis: 8 Februari – 19 Mei 1993
Bedok, Singapura
Tulisan: Rasiah Halil.

In Search of the Island (Translation)

I have seen the mountain range
at dusk, distant & desolate,
how magnificent the lake,
the festivities of wild ducks & swans,
the friendly squirrels at the mountain peak,
how such beauty can never be expressed;
witnessing nature, giving, speechless,
like life that readily accepts,
astounding us, making us seeking the island,
on a compulsive journey.

Are we longing for this mountain range,
or is there an unspoken metaphor,
acknowledging this alienation, within this
situational prison, concrete jungles, stiff
& rough; or is this a yearning for the casuarinas,
the lake & pond, the limitless ocean,
seagulls, or just man,
joyous, free, & unhurried by busyness?

Do you experience, too, this seemingly
unending quest, from city
to city, from one airport to another,
because tranquillity is an antidote,
betwixt the burdens of the past, the
present’s demands & the future’s promise, we
begin to sketch a map, in search of the isle,
amidst the ferocity of the waves.

We will leave this waterway,
in search of the isle, toward the cape & ocean,
& a speck of hope implanted in the soul,
rooted in the mind, utterly irremovable,
we should not buttress a love,
for those who are neglected, undefended,
because the borders are too confining,
to a selflessness that’s different in articulation.

I know not the ending,
digesting everything, like the
ever-patient oyster, whether it will turn out like
Fansuri, Chairil, Amir Hamzah or Pramoedya*
all those steps taken & then isolation,
torment, no one to comprehend
the agony of suffering.

Is this enounter an answer –
you who are searching for the island,
& I marooned on the shore – or
might both of us, afterwards, find an
island, far from the Equator,
one we will understand & accept?

At times, upon hearing your voice or news,
I am more convinced about fate,
compassion, love, selflessness & sacrifice,
how life is a continuum, between
misery & mirth, & like the phoenix,
despite the searing failures & disappointments,
we learn to be alive.

I know we will reach the island,
my friend, like Al-Tariq*, confident
of his voyage. And should we then
be delayed – the earth erupts, Ishtar
injured, & the dove break its wings –
you will know it wasn’t in vain: we
sketched the map, in search of the island,
though the Cape of Good Hope changes its name.

Original Malay Poem By: Rasiah Halil
Written: 8 February – 19 May 1993
Bedok, Singapore
Translated By: Bohari Jaon with the assistance of Rasiah Halil.

*Fansuri [Hamzah Fansuri], Chairil [Chairil Anwar], Amir Hamzah and Pramoedya [Pramoedya Ananta Toer]: poets and writers (16th – 21st century) from Indonesia/Malay Archipelago
*Al-Tariq [Tariq bin Ziyad]: 8th century Arab voyager/conqueror who gave his name to the Straits of Gibraltar.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s